The Power Of Thinking

March 29th, 2006 by rico-pahlevi

Prinsip paling mendasar dalam pemikiran selama ini adalah : "Bila kita
pikir kita bisa, maka kita bisa. tetapi bila kita pikir kita tidak
bisa kita tidak bisa."

Jadi apakah kita akan berhasil atau gagal, sepenuhnya adalah
tergantung pada diri kita sendiri.

Kesuksesan atau kegagalan kita sangat tergantung kepada keputusan
mental yang kita ciptakan di dalam pemikiran kita sendiri.

Kesuksesan akan datang dalam bentuk "Bisa" sedangkan, kegagalan akan
datang dalam bentuk "Tidak Bisa".

Orang-orang yang sukses adalah mereka yang menggunakan seluruh potensi
pikiran mereka yang sangat luar biasa, mereka selalu mengembangkan dan
memaksimalkan potensi dirinya melalui pikiran untuk pencapaian tujuan
mereka.

Mereka memliki pikiran yang positif dengan hasrat dan kepercayaan
terhadap diri sendiri yang sangat luar biasa sekali, semangat mereka
membara untuk mencapai tujuan mereka.

Biasanya mereka selalu memiliki pikiran yang positif dan jernih dalam
melakukan segala perilaku dan tindakan.

Jika kita dapat menggunakan kekuatan pikiran ini, maka kekuatan ini
akan mengubah mental dan perilaku kita, tentu saja kehidupan kita akan
berubah menjadi semakin baik dan positif.

Kita akan selalu terinspirasi dan termotivasi dengan pikiran positif kita,
tentu akan semakin banyak peluang-peluang positif dalam hidup
kita yang dapat ditemukan dalam kerajaan pikiran kita yang sangat luar
biasa ini.

Manfaatkanlah sepenuhnya kekuatan pemikiran ini untuk mewujudkan visi
yang sangat luar biasa yang tentunya akan menunjang kehidupan.

Kita adalah satu-satunya nahkoda atau penguasa pikiran kita sendiri,
oleh karena itu apa yang kita pikirkan dan tindakan apa yang akan kita
lakukan setiap hari adalah pikiran kita sendiri.

Buddha pernah berkata bahwa "Keberadaan kita adalah hasil dari
pemikiran kita dan apa yang kita pikirkan akan membentuk dunia kita."

Jadi jelaslah bahwa diri kita adalah penguasa dari pikiran kita
sendiri, jika kita berpikir hal-hal yang positif, hidup ini akan
positif, begitu pula dengan sebaliknya.

Andaikata mengalami macet di jalan, tidak perlu berpikiran negatif
dengan mengomel atau menggerutu, sebetulnya itu adalah waktu yang
sangat tepat untuk melakukan dan menambah pikiran positif dengan
mendengarkan radio dengan segudang acaranya, seperti mendengarkan
cerita-cerita bijaksana dari Bapak Andrie Wongso (Motivator No. 1
Indonesia), berita/informasi yang bermanfaat dan berguna, dll.

Inspirasi tentang pikiran, adalah pikirkan selalu yang positif dan
selalu katakan "Bisa", karena kegagalan akan datang pada orang yang
mengatakan "Tidak Bisa", jadi lebih baik katakan "Bisa", mungkin
kalimat pentingnya bisa dirubah sedikit menjadi "Bila kita pikir kita
bisa, maka kita bisa. tetapi bila kita tidak bisa kita harus Pikir
"Bisa".

Sumber: The Power Of Thinking oleh Johanes Ariffin Wijaya, penulis
buku best seller "8 Kualitas Mental Positif untuk Meraih Sukses".

***

Seputih Melati

November 30th, 2005 by rico-pahlevi

Melati tak pernah berdusta dengan apa yang ditampilkannya. Ia tak memiliki warna dibalik warna putihnya. Ia juga tak pernah menyimpan warna lain untuk berbagai keadaannya, apapun kondisinya, panas, hujan, terik ataupun badai yang datang ia tetap putih. Kemanapun dan dimanapun ditemukan, melati selalu putih. Putih, bersih, indah berseri di taman yang asri. Pada debu ia tak marah, meski jutaan butir menghinggapinya.

Pada angin ia menyapa, berharap sepoinya membawa serta debu-debu itu agar ianya tetap putih berseri. Karenanya, melati ikut bergoyang saat hembusan angin menerpa. Kekanan ia ikut, ke kiri iapun ikut. Namun ia tetap teguh pada pendiriannya, karena kemanapun ia mengikuti arah angin, ia akan segera kembali pada tangkainya.

Pada hujan ia menangis, agar tak terlihat matanya meneteskan air diantara ribuan air yang menghujani tubuhnya. Agar siapapun tak pernah melihatnya bersedih, karena saat hujan berhenti menyirami, bersamaan itu pula air dari sudut matanya yang bening itu tak lagi menetes. Sesungguhnya, ia senantiasa berharap hujan kan selalu datang, karena hanya hujan yang mau memahami setiap tetes air matanya. Bersama hujan ia bisa menangis sekeras-kerasnya, untuk mengadu, saling menumpahkan air mata dan merasakan setiap kegetiran. Karena juga, hanya hujan yang selama ini berempati terhadap semua rasa dan asanya. Tetapi, pada hujan juga ia mendapati keteduhan, dengan airnya yang sejuk.

Pada tangkai ia bersandar, agar tetap meneguhkan kedudukannya, memeluk erat setiap sayapnya, memberikan kekuatan dalam menjalani kewajibannya, menserikan alam. Agar kelak, apapun cobaan yang datang, ia dengan sabar dan suka cita merasai, bahkan menikmatinya sebagai bagian dari cinta dan kasih Sang Pencipta. Bukankah tak ada cinta tanpa pengorbanan? Adakah kasih sayang tanpa cobaan?

Pada dedaunan ia berkaca, semoga tak merubah warna hijaunya. Karena dengan hijau daun itu, ia tetap sadar sebagai melati harus tetap berwarna putih. Jika daun itu tak lagi hijau, atau luruh oleh waktu, kepada siapa ia harus meminta koreksi atas cela dan noda yang seringkali membuatnya tak lagi putih?

Pada bunga lain ia bersahabat. Bersama bahu membahu menserikan alam, tak ada persaingan, tak ada perlombaan menjadi yang tercantik, karena masing-masing memahami tugas dan peranannya. Tak pernah melati iri menjadi mawar, dahlia, anggrek atau lili, begitu juga sebaliknya. Tak terpikir melati berkeinginan menjadi merah, atau kuning, karena ia tahu semua fungsinya sebagai putih.

Pada matahari ia memohon, tetap berkunjung di setiap pagi mencurahkan sinarnya yang menghangatkan. Agar hangatnya membaluri setiap sel tubuh yang telah beku oleh pekatnya malam. Sinarnya yang menceriakan, bias hangatnya yang memecah kebekuan, seolah membuat melati merekah dan segar di setiap pagi. Terpaan sinar mentari, memantulkan cahaya kehidupan yang penuh gairah, pertanda melati siap mengarungi hidup, setidaknya untuk satu hari ini hingga menunggu mentari esok kembali bertandang.

Pada alam ia berbagi, menebar aroma semerbak mewangi nan menyejukkan setiap jiwa yang bersamanya. Indah menghiasharumi semua taman yang disinggahinya, melati tak pernah terlupakan untuk disertakan. Atas nama cinta dan keridhoan Pemiliknya, ia senantiasa berharap tumbuhnya tunas-tunas melati baru, agar kelak meneruskan perannya sebagai bunga yang putih. Yang tetap berseri disemua suasana alam.

Pada unggas ia berteriak, terombang-ambing menghindari paruhnya agar tak segera pupus. Mencari selamat dari cakar-cakar yang merusak keindahannya, yang mungkin merobek layarnya dan juga menggores luka di putihnya.

Dan pada akhirnya, pada Sang Pemilik Alam ia meminta, agar dibimbing dan dilindungi selama ia diberikan kesempatan untuk melakoni setiap perannya. Agar dalam berperan menjadi putih, tetap diteguhkan pada warna aslinya, tidak membiarkan apapun merubah warnanya hingga masanya mempertanggungjawabkan semua waktu, peran, tugas dan tanggungjawabnya. Jika pada masanya ia harus jatuh, luruh ke tanah, ia tetap sebagai melati, seputih melati. Dan orang memandangnya juga seperti melati.

Dan kepada melatiku, tetaplah menjadi melati di tamanku. Karena, aku akan menjadi angin, menjadi hujan, menjadi tangkai, menjadi matahari, menjadi daun dan alam semesta. Tetapi takkan pernah menjadi debu atau unggas yang hanya akan merusak keindahannya, lalu meninggalkan melati begitu saja.

Sebuah Doà

November 15th, 2005 by rico-pahlevi

Sebuah Doà

Ya Rabb..
Ku tahu sebaik apapun ku berusaha
Ku hanya manusia biasa
Yg penuh lupa dan dosa
Tapi pada-Mu ya Rabb kupinta

Siapapun bidadari yg kau siapkan untukku
Semoga ku bisa menjadi yg terbaik baginya
Karena ku tahu ya Rabb ku
Dialah yang terbaik untukku

Dan semoga ya Rabb
Semoga
Dalam naungan cinta-Mu
Kita dapat bersama
Dan selalu saling mengingatkan
Untuk sebuah cita suci mulia
Agar dapat kembali bersua,
Di surga-Mu..

Amien..